Terpaksa Mahasiswa Pagaralam Keluar Dari Asrama ‘Di Jojga’

//// Pemkot Pagaralam Tak Perpanjang Kontrak Asrama

 

PAGARALAM, Ampera Sumsel – Cerita sedih didunia pendidikan kembali terjadi, kali ini dialami mahasiswa asal Kota Pagaralam yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Para mahasiswa Pagaralam terpaksa harus mengeluarkan barang mereka dari asrama Pagaralam yang disewakan pihak Pemkot Pagaralam. Pasalnya masa sewa yang dibayar sudah habis atau tidak diperpanjang Pemkot Pagaralam.

Didalam laman Facebook Mantan Ketua Ikatan Keluarga Pelajar/Mahasiswa Pagaralam–Yogyakarta (IKPM), Dedet Mandela, memperlihatkan barang serta perelengkapan asrama mahasiswa Pagaralam di Jogjakrta yang yang sedang dikemasi keluar dari asrama.

Dihubungi wartawan, via Handphone, Dedet Mandela yang baru menamatkan pendidikannya di sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata AMPTA, Yogjakarta, menceritakan kondisi terkini dari rekan-rekannya pasca keluarnya mereka dari asrama serta kronologis permasalahan yang terjadi.

Dedet yang kini masih menetap di Yogyakarta mengatakan, bahwa beberapa hari yang lalu pihaknya datang mengunjungi asrama. Namun dirinya terkejut melihat para penghuni asrama tengah sibuk mengemasi barang-barang keluar dari asrama dan hendak mencari tempat kost baru. Pasalnya asrama yang selama ini tempati sudah habis masa kontraknya.

“Saat saya datang kawan-kawan sedang sibuk mengemasi barang-barang keluar asrama, ketika saya tanya rupanya asrama ini habis kontraknya dan belum diperpanjang oleh Pemkot Pagaralam,” katanya.

Lebih jauh Dedet menceritakan. keberadaan asrama mahasiswa Pagaralam di Yogyakarta tersebut adalah berkat bantuan Pemerintah Kota Pagaralam. Dimana pada 2015 yang lalu, Walikota Pagaralam yakni Ida Fitriati, beserta jajarannya berkunjung ke Yogyakarta untuk melihat kondisi mahasiswa Pagaralam disana.

“Dari kunjungan tersebut, ibu walikota saat itu memberikan bantuan asrama sebagai tempat bernaung dan berkumpul untuk mahasiswa dan pelajar yang sedang menimbah ilmu dengan cara mecarikan sebuah rumah untuk dikontrak selama satu tahun,” jelasnya.

Sementara itu Ketua IKPM, Rezky Veroza membenarkan jika rekan-rekannya sudah tidak lagi menghuni asrama lagi karena kontraknya sudah habis. Jadi untuk sementara rekan-rekan itu ada yang mencari kost baru dan ada juga yang ditampung oleh rekannya yang lain.

“Saat ini rekan-rekan sudah mendapat kost yang baru dan sebagian lagi masih ditampung oleh rekan-rekan yang lain,” katanya.

Rezky yang masih masih menimbah ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan, sekitar bulan Agustus yang lalu pihaknya sudah mengirim surat kepada Dinas Pendidikan Kota Pagaralam sebagai penanggung jawab sekaligus permohonan perpanjangan kontrak dengan pihak pemilik rumah, karena masa kontraknya akan segera berakhir.

“Sekitar bulan Agustus yang lalu, kami sudah mengirimkan proposal kepada Pemkot Pagaralam melalui Dinas Pendidikan mengenai soal ini, dan saya masih menyimpan surat tanda terima suratnya,” jelasnya.

Menurut Rezky, sebelum kejadian ini terjadi, dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi pihak Dinas Pendidikan Pagaralam untuk menceritakan kondisi yang terjadi sekaligus menanyakan kejelasan perpanjangan kontrak asrama, namun jawaban dari dinas bahwa proposal mereka sedang dalam di proses.

“Karena kawan-kawan sudah malu dengan pemilik rumah sebab kontrak asrama sudah habis, jadi mereka berinisiatif untuk keluar dari sana untuk mencari tempat kost yang baru dan sebagian lagi ada yang ditampung oleh kawan yang lain,” jelasnya.

Baik Dedet, Rezky maupun Etal, mengharapkan agar Pemkot Pagaralam ke depan bisa membangun asrama mahasiswa permanen seperti yang dilakukan daerah lain sehingga masalah-masalah seperti ini tidak perlu terjadi lagi.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagaralam, Kun Widayatsari didampingi Kasi Sarana Prasarana, Mike Vendra ST, menyampaikan bahwa benar pihak Diknas sudah menerima proposal dari IKPM terkait permohonan perpanjangan kontrak huni asrama mahasiswa Pagaralam di Jogja. Namun permohonan tersebut masih dalam proses, pasalnya ada beberapa persyaratan yang belum lengkap, diantaranya jumlah mahasiswa asli Pagaralam yang ada disana, beserta bukti domisili orang tuanya.

“Benar kami sudah menerima proposal dari IKPM pada bulan Agustus lalu, tapi karena proposal itu masih ada yang kurang diantaranya jumlah riil mahasiswa asli kota Pagaralam dengan bukti domisili orang tuanya, makanya proposal tersebut masih dalam proses,” ujarnya.

Dikatakan Mike Vendra, mulai tahun 2016 ini pihak Diknas sudah bukan menjadi penanggung jawab pendanaan soal asrama tersebut. Pasalnya hal itu sudah menjadi tanggung jawab Pemkot melalui Dinas Pendapatan karena uang untuk mengontrak asrama tersebut harus berbentuk hibah. Jadi Diknas hanya bertanggung jawab menjadi penyampai informasi saja ke pihak Pemkot Pagaralam.

“Tahun 2015 memang asrama tersebut dibiayai oleh Diknas, namun untuk tahun 2016 hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi karena pembiayaannya harus melalui Dana Hibah sehingga Pemkot Pagaralam melalui Dinas Pendapatan lah yang mengeluarkan uang tersebut, dan kami hanya bertugas sebagai penyampai informasi kepada dari IKPM maupun sebaliknya,” katanya.

Ditanya soal kejelasan perpanjangan kontrak huni asrama mahasiswa Pagaralam di Jogja untuk tahun 2017, baik Kun Widayatsari maupun Mike, mengatakan bahwa hal tersebut belum bisa di pastikan waktunya karena masih dalam proses sembari menunggu kelengkapan persyaratan yang diminta dari IKPM. (Dian)