HAPIR TAK KULIAH KARENA JANJI SM CSR PTBA

 

MUARA ENIM Ampera Sumsel – Janji manis yang diucapkan oleh Senior Manager bagian CSR maupun manajemen PTBA yang katanya dapat memberikan bea siswa berprestasi bagi kalangan yang tidak mampu adalah cuma janji belaka alias omong kosong ini dialami oleh seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Pada dasarnya bagi keluarga yang tidak mampu sangat berharap untuk mendapat bea siswa, bea siswa dapat diterima bagi anak anak yang berprestasi, apalagi anak anak yang berprestasi ini berada diwilayah ring 1 PTBA. Anaknya adalah Calon mahasiswa yang diterima kuliah di Institut Tekhnologi Bandung (ITB).

Proposal yang diajukan sejak 26 Mei 2016 hingga pada saatnya tidak pernah direalisasikan yang ada cuma janji dengan kata pasti dapat. 12 Agustus 2016, telah diadakan survei oleh pihak CSR PTBA dan layak untuk diberikan bantuan bea siswa. Namun setelah berulang kali ditanyakan pada SM CSR Saiful Islam bisa pasti dibantu jawabnya. Begitupun ketika ditanyakan pada bawahannya, cuma menjawab, saya cuma menjalankan tugas dan lagi diproses.

“Namanya orang tua pasti berharap agar anaknya menjadi pintar dan maju hingga dapat bersaing dalam aspek kehidupan. Dengan segala upaya, karena sudah waktunya daftar ulang masa perkuliahan, untunglah calon mahasiswa ini mendapat bea siswa bidik misi. Alhamdulillah syukur anak bisa kuliah katanya. Setelah satu semester kuliah, tetap kesulitan biaya, kemudian sebagai orang tua ia menghadap Sekda Muara Enim, ternyata pemda tidak menyediakan beasiswa maupun bantuan apapun, namun diberikan solusi melalui surat Bapak Bupati Nomor 451.5/0054/II/2017 agar CSR PTBA dapat memberikan bantuan beasiswa. Setelah diajukan sekali lagi yang didapat hanya janji yang diberikan. “Tuturnya

Setelah berulangkali ditanyakan dan mengharapkan kepastian, baru tanggal 17 Maret 2017 ada surat pemberitahuan dari CSR PTBA Nomor 143/Eks-13500/KL.03/III/2017  yang ditanda tangani SM CSR, mahasiswa tersebut hanya mendapatkan bantuan sebesar Rp 7 juta. Sekali lagi bantuan ini tidak tau kapan akan diberikan.

Diawal bulan Mei 2017 kembali yang bersangkutan menanyakan kapan bantuanya dapat diberikan/diterima, dengan sangat entengnya SM CSR menjawab, gampang dan memanggil bawahannya bilang kapan saja bisa diambil. Sebagai orang tua yang tidak mampu, tentu sangat senang mendengar jawaban yang diberikan tersebut. 29 Mei 2017 ditanyakan lagi ke SM CSR melalui sms kapan dapat diberikan, karena sangat dibutuhkan buat bayar kost anaknya. Jawabanya disuruh menemui salah satu bawahannya. Setelah menemui orang yang dimaksud, ia menjawab proposal yang mana katanya, saya gak diberi tahu, nanti saya cari dulu ungkapnya (nama dirahasiakan).

” Kelihatannya mereka pada bingung. Dan akhirnya mereka menceritakan keadaan di CSR PTBA. Bahwa karyawan di bagian CSR ini pada bingung karena tidak adanya pendelegasian wewenang sedangkan SM jarang masuk dan selalu di Jakarta. Kita tidak dapat mengambil keputusan yang akhirnya kerjaan jadi lambat selesai, “Tutur salah satu pegawai.

Untunglah ada  seseorang yang memberitahukan, katanya coba temui pak Roy Ubaya. Setelah bertemu dengan karyawan CSR pak Roy Ubaya diceritakanlah semuanya, setelah mendengar cerita udah setahun lebih pak katanya, oke saya cari dulu berkasnya kalau ada besok saya langsung urus dan transfer uangnya.

Ternyata bukan sekedar janji, janjinya benar benar ditepati. Pada Tanggal 31 Mei 2017 uang sudah diterima mahasiswa tersebut. Yang jadi pertanyaan dan perhatian manajemen PTBA (Persero) kenapa pengelolaan CSR tidak profesional. Serta berikan kepastian dan jangan mempermainkan masyarakat. Pungkasnya.

(Naska : Dayat)